Tuhan,
jika ini rencana terbaikmu. Aku ikhlas menerima semuanya. Aku tak bisa berbuat
apa-apa, selain mengiyakan semua atas takdir-Mu. Aku tahu, Engkau tidak akan
memberi cobaan melampaui batas kemampuan hambamu. Aku hanya bisa berniat,
berusaha dan bertindak atas segala yang telah Engkau gariskan.
Aku
tahu, semua ini tersa sulit untuk ditelan. Kini aku benar-benar merasa di ujung
tebing tinggi. Curam dan menakutkan. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku
lakukan. Semua seakan terasa serba salah. Aku telah berusaha untuk tetap sabar,
menerima perlakuannya. Aku tetap memilih
untuk diam. Agar semua tak menjadi lebih rumit. Tapi, mulutku berkata lain. Aku
tak bisa memendam ini semua. Semua terasa menusuk ulu hatiku. Perih tak
terkira. Aku terpaksa menceritakan semua
kegundahan yang aku rasakan kepada
jejaring sosial. Tapi, sepertinya dia enggan memberikan solusi. Mungkin
juga dia takut mencampuri urusan orang lain, mungkin juga dia tak mempunyai alasan
yang pasti, agar memberikan solusi. Karena dia benda mati. Betapa bodohnya aku,
mana mungkin dunia maya bisa menjawab semua keluh kesahku. Sedangkan orang di dunia
nyata aja belum tentu mau memberi solusi tentang ini.
Tuhan,
bantu aku. Jangan siksa aku seperti ini. Mungkinkah aku menjauh darinya?. Atau
membencinya?. Tapi tidak! Itu perbuatan anak-anak remaja yang masih alay. Tapi
di sisi lain. Mana mungkin aku tidak membencinya. Sedangkan dia selalu memasang
seribu duri di matanya. tatkala berjumpa denganku. Mulutnya selalu terkunci
rapat jika denganku. Atau, apakah aku harus mengubah sifatku, agar memanjakan
dia, atau untuk sekedar membuatnya nyaman ketika bersamaku. Ooh! Betapa
egoisnya aku. Jangankan duduk berdua, berjalan denganku saja dia enggan.
Ya
Rabb. Sungguh aku tidak memiliki dendam terhadapnya. Tapi ada sedikit
dinding-dinding ketidaksukaanku padanya. Tentang sikapnya. Apakah aku harus
mengalah. Mungkin iya!.
Bagaimana
mungkin aku bisa membencinya. aku pernah membaca sebuah judul novel “Daun yang
jatuh tak pernah membenci angin”. Sintaksis itu sarat akan makna. Kenapa aku
harus membenci orang lain dengan alasan yang sepele. Dari kalimat itu, kita
diajarkan. bahwa kita tidak boleh melawan atau membalas siapapun dengan hal
yang serupa. Mengihklaskan semuanya. Daun akan jatuh begitu saja, tanpa dia harus
membenci angin yang telah membuatnya terjerambab ditanah. Hingga hancur.
Hari-hariku
juga selalu dengannya. Satu kamar dengannya. Makan, mandi sampai tidurpun aku
selalu bersamanya. Di ruang yang sama. Tapi rasa ketidaksukaanku masih saja,
membayang di hati dan mulutku. Seandainya saja semua rasa ketidaksukaanku ini
bisa hilang. Alahkah senangnya hatiku. Andai saja ketidaksukaan ini, bisa aku
bersihkan dengan deterjen. Seperti yang ada di iklan televisi. Yang katanya
ampuh menghilangkan noda membandel apapun. Pasti aku sudah membelinya. Untuk
membersihkan semua noda yang ada dihati dan fikiranku selama ini. Sudah hampir
dua tahun, semua ini mengendam dalam diriku. Dan betapa bodohnya aku.
Bisa-bisanya pikiran yang kotor itu mengontrol semua organ di dalm tubuhku.
Betapa
inginnya aku seperti teman-teman yang lain, bersendagurau dengan teman
sekamarnya, berbagi suka dan duka. Saling mengisi di antara mereka. Indah
snungguh hari-hari yang mereka jalani. Betapa senangnya mereka, menapaki
perantauan di negeri orang, dengan mendapatkan keluarga baru. Walau hanya sementara.
Selam menuntut ilmu saja.
Tuhan,
jangan siksa aku dengan semua ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar