Rabu, 01 Mei 2013

JiKa


Tuhan, jika ini rencana terbaikmu. Aku ikhlas menerima semuanya. Aku tak bisa berbuat apa-apa, selain mengiyakan semua atas takdir-Mu. Aku tahu, Engkau tidak akan memberi cobaan melampaui batas kemampuan hambamu. Aku hanya bisa berniat, berusaha dan bertindak atas segala yang telah Engkau gariskan.
Aku tahu, semua ini tersa sulit untuk ditelan. Kini aku benar-benar merasa di ujung tebing tinggi. Curam dan menakutkan. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Semua seakan terasa serba salah. Aku telah berusaha untuk tetap sabar, menerima perlakuannya.  Aku tetap memilih untuk diam. Agar semua tak menjadi lebih rumit. Tapi, mulutku berkata lain. Aku tak bisa memendam ini semua. Semua terasa menusuk ulu hatiku. Perih tak terkira.  Aku terpaksa menceritakan semua kegundahan yang aku rasakan kepada  jejaring sosial. Tapi, sepertinya dia enggan memberikan solusi. Mungkin juga dia takut mencampuri urusan orang lain, mungkin juga dia tak mempunyai alasan yang pasti, agar memberikan solusi. Karena dia benda mati. Betapa bodohnya aku, mana mungkin dunia maya bisa menjawab semua keluh kesahku. Sedangkan orang di dunia nyata aja belum tentu mau memberi solusi tentang ini.
Tuhan, bantu aku. Jangan siksa aku seperti ini. Mungkinkah aku menjauh darinya?. Atau membencinya?. Tapi tidak! Itu perbuatan anak-anak remaja yang masih alay. Tapi di sisi lain. Mana mungkin aku tidak membencinya. Sedangkan dia selalu memasang seribu duri di matanya. tatkala berjumpa denganku. Mulutnya selalu terkunci rapat jika denganku. Atau, apakah aku harus mengubah sifatku, agar memanjakan dia, atau untuk sekedar membuatnya nyaman ketika bersamaku. Ooh! Betapa egoisnya aku. Jangankan duduk berdua, berjalan denganku saja dia enggan.
Ya Rabb. Sungguh aku tidak memiliki dendam terhadapnya. Tapi ada sedikit dinding-dinding ketidaksukaanku padanya. Tentang sikapnya. Apakah aku harus mengalah. Mungkin iya!.
Bagaimana mungkin aku bisa membencinya. aku pernah membaca sebuah judul novel “Daun yang jatuh tak pernah membenci angin”. Sintaksis itu sarat akan makna. Kenapa aku harus membenci orang lain dengan alasan yang sepele. Dari kalimat itu, kita diajarkan. bahwa kita tidak boleh melawan atau membalas siapapun dengan hal yang serupa. Mengihklaskan semuanya. Daun akan jatuh begitu saja, tanpa dia harus membenci angin yang telah membuatnya terjerambab ditanah. Hingga hancur.
Hari-hariku juga selalu dengannya. Satu kamar dengannya. Makan, mandi sampai tidurpun aku selalu bersamanya. Di ruang yang sama. Tapi rasa ketidaksukaanku masih saja, membayang di hati dan mulutku. Seandainya saja semua rasa ketidaksukaanku ini bisa hilang. Alahkah senangnya hatiku. Andai saja ketidaksukaan ini, bisa aku bersihkan dengan deterjen. Seperti yang ada di iklan televisi. Yang katanya ampuh menghilangkan noda membandel apapun. Pasti aku sudah membelinya. Untuk membersihkan semua noda yang ada dihati dan fikiranku selama ini. Sudah hampir dua tahun, semua ini mengendam dalam diriku. Dan betapa bodohnya aku. Bisa-bisanya pikiran yang kotor itu mengontrol semua organ di dalm tubuhku.
Betapa inginnya aku seperti teman-teman yang lain, bersendagurau dengan teman sekamarnya, berbagi suka dan duka. Saling mengisi di antara mereka. Indah snungguh hari-hari yang mereka jalani. Betapa senangnya mereka, menapaki perantauan di negeri orang, dengan mendapatkan keluarga baru. Walau hanya sementara. Selam menuntut ilmu saja.
Tuhan, jangan siksa aku dengan semua ini.