Rabu, 20 Maret 2013

DeBu dAlaM rUmAH

Sepucuk pohon cemara, berdiri kokoh di sudut kanan rumahku. Menghiasi indahnya malam yang sendu. Berselimut dinginnya angin yang membeku. Kuayunkan kaki. Sembari melihat seutas demi seutas air yang turun membasahi daun tanah, yang telah mengering.  Oleh pancaran sinar matahari yang menyengat kala siang datang. Duduk termenung seorang diri. Di depan teras rumah. Seraya bergurau mesra dengan lembabnya hati. “ibu dan ayahku telah datang. Tapi ia tak hadir disisiku, hanya harumnya yang menyelimuti setiap helaan nafasku
Ingatanku kembali menerawang jauh. Memoriku kembali berputar ke masa lalu. Sudah dua tahun lebih mereka berpisah, tapi tak ada satu orang pun yang mau mengalah, demi aku. Buah cintanya. Ataukah? Mungkin aku dilahirkan tanpa rasa cinta di antara mereka. Aku memang seorang anak yang jahat. Selalu menipu, membohongi mereka dengan segala tingkah remajaku.
Aku ingin sekedar mereka tahu, aku ini kering tanpa mereka dalam hari-hariku. Aku butuh kalian embun, yang selalu menyejukkanku.
Dalam masa sulitku ataupun senangku. Yang aku ingat dan aku kenang hanya mereka berdua. Sekeras apapun mereka, tetap mereka terutama dalam benakku. Takkan ada yang bisa membuatku bahagia, selain mereka. Walau, hanya senyum sekecil apapun yang tersungging di bibir itu. Mereka melebihi tulang rusukku. Mereka adalah sepasang kakiku, tempat aku berpijak. Menuntun langkahku. Jangan buat aku sengsara dengan semua keanehan ini.
Masihku simpan rapat dalam memori. Saat mereka tertawa, saat mereka saling melempar senyum dan tawa, duka maupun lara. Mana dulu janji mereka, yang selalu ingin membuatku bahagia.
Di kala senja akan meninggalkan siang di ufuk barat. Dan malam bersiap untuk menggantikannya dengan seribu tempelan bintang di sekelilingnya. Kita shalat berjamaah. Ayah di depan sebagai imam, serta Ibu dan aku di belakang sebagai makmun. Kita mengucapkan lafaz-lafaz Allah yang kuasa atas segalanya. Dengan hening dan khidmat. Bedoa. Meminta yang terbaik dari yang terbaik atas pemberiannya. Kemudian bersiap-siap untuk melingkari meja makan, hanya untuk sekedar santap malam. Masih terangkai jelas dalam ingatan, saat ayah marah ketika ibu bercerita pada saat makan.
“Sudah, nggak usah berbicara kalau lagi makan. Nggak baik. Nanti ada-ada saja yang terjadi! Tegas ayah
Aku hanya menunduk seraya melanjutkan makan. Sedangkan ibu menjawab kecil atas ucapan ayah. “iya, maaf”
Sekarang semua seakan membuncah ke luar dari memoriku. Semua tidak bisa kutampung lagi. Semua seakan menjadi kabut hitam. Tak jelas arah tujuan. Semua juga telah membuntukan imajiku.
***
Semilir angin membawaku menuju perguruan tinggi yang ada di kota provinsi. Di sini aku merasa agak sedikit tenang. Berfikir, walau gelisah selalu mengucur deras, beriringan dengan aliran darahku. Kemudian menghentak jantungku hingga menembus ulu hatiku. Sungguh, ini lebih parah dari perkosaan, pembunuhan ataupun segala macam kriminal yang sedang panas dibicarakan saat ini.
Aku hanya ingin mereka kembali, tanpa ada perselisihan, pertengkaran ataupun perdebatan. Kukira, menyatukan dua orang yang dulu saling melengkapi. Dan pernah diikat tali penikahan, janji sehidup semati itu mudah. Ternyata itu lebih sulit dari menyatukan bumi dan langit.
Acapkali kutatap wajah tirus yang semakin hari semakin berkeriput itu, wajahnya semakin kering, jauh dari tetesan embun. Semua seakan padam, kelam legam. Tak ada celah-celah cahaya yang mampu menggores wajahnya lagi. Saat itu, memang aku merasa sangat bersalah. Hingga, tak sanggup untukku tidak meneteskan embun bening dari bendungan kelopak mata sipitku. Melihat Ibu yang selalu berkabut. Mungkin isi otaknya ingin muntah, karena rentetan masalah selalu menghantamnya. Detik demi detik dia datang perlahan dan semakin hari semakin kencang. Belum lagi omongan orang di sekeliling rumah. Saudara dan lainnya. Itu yang selalu ditanggung Ibu, semenjak Ayah selalu datang kerumah. Menjengukku sekaligus melihat Ibu. Mungkin! Aku juga tidak tahu persis.
***
Tak hanya Ibu yang semakin memperlihatkan wajah tirusnya, begitupun dengan Ayah. Semakin ringkih dengan tubuh jangkungnya. Rambut yang dulu hitam lebat. Kini memutih. Kulitnya semakin dilipat oleh debu dan angin  yang menusuk tulang.
“assalamualaikum, ucap Ayah dari daun pintu.
“waalaikumsalam, jawabku dan Ibu saling bersamaan.
Langkah gontainya seakan kian cepat melaju. Seiring detak jarum jam yang berbunyi. Tepat di atas kepalaku. Menyusup ruang tamu, lalu menghampiri ruang keluarga yang diapit dapur dan ruang tamu. Kemudian Ayah duduk bersila tepat di bawah jendela, memancarkan cahaya pagi yang hangat. Pagi itu orang baru saja berbondong-bondong pergi ke rumah Tuhan, untuk melaksanakan shalat Idul Fitri. Yang hanya sekali setahun dilakukan itu. Hari untuk dimana saling memaafkan. Kata orang-orang! Tapi menurutku setiap hari bisa saling bermaafan. Mungkin saat itu tepatnya saling bersilaturahmi dengan keluarga besar.
Persaaanku campur aduk ketika suasana yang dulu beku kini mulai mencair. Apakah ini langkah yang baik, untuk menyatukan dua hati yang terpecah? Gumamku, sambil memancarkan pesona senyum kilatku pada mereka.
“hmm, Ayah, Ibu. Ungkapku mulai mencairkan suasana. Lalu aku bersimpuh di depan mereka. inilah saat yang tepat, untuk membuat mereka merasa betapa pentingnya mereka bagiku. kupegang erat jemari mereka. Tak lupaku mengecupnya. Bait demi bait terus mengucur deras dari bibirku.
“maafkan aku ketika ucapanku pernah menyayat hati Ibu dan Ayah, mengukir luka yang mendalam bagi kalian. Jika aku salah tolong tegur aku” kalian adalah cahaya dunia bagiku. Tanpa kalian aku tak tahu akan bagaimana. Yang aku ingin saat ini adalah melihat kalian kembali bersama lagi seperti dulu. Seperti dulu yang kalian perlihatkan padaku. Aku tak mau mendapatkan kasih sayang terpisah dari kalian. Aku hanya butuh itu saat ini. Atau, apakah kalian tega melihatku hidup lemah dengan segala air mata. Di tengah kerasnya kehidupan di kota. Dari centang perenang perangai anak manusia.
Aku sudah cukup dewasa untuk ini Ibu, ayah. Memang aku tak akan bisa merubah apapun atas kalian, jika kalian tidak mau merubahnya. Ingatlah, aku masih butuh kalian, sama seperti mereka teman-temanku. Aku tahu jalan hidup manusia telah ditentukan oleh penciptanya. Sesuai dengan apa yang dia butuhkan.
“tapi apakah ini yang aku butuhkan Ibu, ayah? Sehingga aku merasakan pahitnya hidup tanpa kebahagian dari kalian. Justru yang aku telan saat ini lebih pahit dari rasanya empedu.
Bait demi bait itu seakan tak mau berhenti mengucur deras dari bibirku bersamaan dengan lajunya titik-titik peluh yang membasahi wajah sembabku.
Aku terhenti sejenak untuk memecahkan kebekuan di antara mereka. Ayah dan Ibu tak mampu mengeluarkan satu huruf pun dari mulutnya. Hanya tetesan bening yang membasahi wajah tirus mereka, tanpa suara. kini semua mematung. Suasana hening tanpa terdengar sayup-sayup ataupun gema-gema takbir yang dikumandangkan. Seakan telinga ini telah tuli, bibir ini telah membisu. Hembusan napasku seakan menggoyahkan pikiran mereka. Kini Ibu angkat bicara.
“iya sayang, debu ini sebentar lagi akan di sapu oleh air hujan yang turun dari langit yang indah, dan ia akan membawakan sebaris pelangi untuk kita” mata Ibu seakan meyakinkan batinku untuk mengatakan ‘iya’.
“tapi kita tidak pernah tahu kapan hujan itu akan datang meyapu debu-debu dalam rumah kita” waktulah yang akan menjawabnya sayang. Lanjut ayah sambil menyeka tetesan bening itu dari wajah tirusnya.
Kini hanya mata yang berkaca-kaca yang terlihat dalam rumah. Air itu seakan membayang dalam benakku. Seandainya aku bisa membuat hujan turun, saat ini juga akan aku turunkan. Agar duka ini tak berlarut-larut menjadi bayangan dalam rumahku. Tapi aku bukan Tuhan yang bisa dengan segala kehendaknya.
Perkataan Ayah yang menutup pembicaraan kami ketika itu. Seolah, aku menangkap makna dibalik itu semua. Ada suatu hal, yang mereka tak ingin aku ketahui. Jika bisa, aku ingin melipat waktu hingga aku menemukan titik tengah dari situasi yang mencekam dada ini. Tapi aku bukan apa-apa dari segala yang dikehendaki-Nya.
***
Aku sadar atas semua kasih sayang yang mereka berikan sekarang. Memang lebih, dari yang dulu pernah mereka hadirkan. Tapi bukan ini yang aku butuhkan. Biar, biar kasih sayang yang secuil apapun itu, asal mereka bersatu kembali merajut cinta seperti yang dulu. Bukan kasih yang teramat besar, tapi terpisah. Tidak!.
Mungkin tangisanku ketika itu, tak mampu memecahkan kebekuan hati Ayah dan Ibu. Kini aku mulai jeli untuk mencari akar-akar yang mulai membusuk itu. Sungguh! Aku tak pernah tahu apa yang terjadi di antara mereka. mungkin karena kebodohanku atau mungkin kejeniusanku dalam mengambil sikap. Memperdulikan mereka. sehingga sekecil apapun masalah yang bergelayut di antara mereka. sedikitpun aku tak pernah tahu. Mungkin ini juga salah satu kebodohan yang pernah aku lakukan. Aku hanya asyik dengan duniaku sendiri, dengan egoku dan segala tabiat burukku.
Beberapa bulan setelah Idul fitri. Dengan suasana masih seperti dulu. Tidak berubah sama sekali. Ibu asik dengan pekerjaannya mencari nafkah untuk membiayai pendidikanku. Sedangkan Ayah, asik pula dengan pekerjaan di kampungnya. Untuk memenuhi kebutuhannya, juga kebutuhanku.
Semua terasa janggal ditelingaku. Ketika Ibu menangis lewat handphone saat bicara denganku. Tentang Ayah.
“sayang, kini Ayahmu benar-benar berubah. Sepertinya Ibu sudah tak sanggup untuk berusaha merajut kembali, tali yang dulu pernah putus di antara kami. Awalnya Ibu akan berusaha menerimanya demi kamu. Ibu akan berusaha merogohkan keegoisan Ibu. Demi kebahagian kamu dan kita sayang” ucap Ibu terbata-bata dengan suara serak akibat tangisan yang tertahan. Dengan pelan kujawab perkataan Ibu.
“Ayah berubah seperti apa Bu?” jelaskan pada Putri Bu.
Dengan nada yang sama, Ibu mengucapkan kata-kata yang tak pernah ingin kudengar sebelumnya.
“semalam nenek datang dan membertihaukan, bahwa Ayahmu telah menikah lagi sayang.
Aku tertegun sejenak. Selagi otakku mencerna kata-kata terakhir Ibu.
Kini dadaku di ujung sesak.  Sendu lirih seakan memacu, sejauh mata memandang seakan kelabut hitam yang menjulang. Kini cerita semuku seakan menjadi abu. Benar-benar abu. Rencana yang sudah aku ancang, kini telah terbang bersama angin. Cahaya mentari seakan tak mampu menembus wajah sembabku. Sengatan ini lebih sakit, dibandingkan sengatan kalajengking. Yang dulu pernah menjilat kaki Ibuku. Pupus sudah harapanku, untuk menyatukan Ibu dan Ayah. Sejauh ini aku hanya bisa berusaha dan melakukan yang terbaik. Selebihnya Tuhanlah yang menentukan. Batinku.
Duka yang aku dan Ibu rasakan tidak kalah sakit. Dikala merasakan duka korban yang terbujur kaku, di depan Ibunya. Selepas ditembak aparat yang tak bertanggung jawab. Berita di televisi, yang beberapa hari ini sering di bicarakan. Bahkan juga lebih kejam, dari bayi yang ditahan. Akibat orang tuanya tak mampu membayar biaya rumah sakit.
***
Aku tenggelam, dalam kenangan yang dulu menghiasi hari-hariku. Bersama Ibu dan Ayah. Beris demi baris, lembar demi lembar kembali terbuka jelas dalam anganku. Disaat aku menangkap embun yang mulai padam, dari raut wajah ibu. Itu, aku sebut dengan embun kesedihan. Kesedihan itu, seakan menerobos dan mencabik-cabik jiwa dan batinku. Ingin aku mengenggamnya sebelum ia padam. Tapi kini hanya layar laptop dan tuts-tuts kyboard yang selalu kutatap nanar, dan hanya kepadanya, aku ceritakan semua sakit dan rasa lelah yang menggerogotiku..
Aku selalu berharap ini hanya dongeng pilu, yang dibacakan ibu. Ketika mataku hendak terpejam. Agar aku bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Dalam dongeng itu. Mungkin ini hanya sekedar mimpi panjang dalam tidurku. Dan kelak aku terjaga, aku akan melihat sebuah lukisan indah. Menggambarkan Aku, Ibu dan Ayah tersenyum simpul. Bersama. Di surga. Dalam rumah kita yang abadi.


Selesai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar